Rabu, 26 Agustus 2015

Mengamen, Mengemis, Juga Membaca: Mengguak Kehidupan Anak Jalanan



MENGAMEN, MENGEMIS, JUGA MEMBACA
MENGGUAK KEHIDUPAN ANAK JALANAN
Oleh:
Riski Ayu Sejati
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UM

Pagi sekali anak-anak jalanan berangkat untuk mengais rezeki, berharap pendapatan cukup untuk membantu keluarga menopang hidup. Pagi-pagi ketika anak-anak pada umumnya pergi kesekolah dengan pakaian yang rapi tapi anak jalanan dengan riang berangkat menuju perempatan lampu merah, jangankan sekolah untuk berjuang hidup dan makan saja bereka berjuang dalam keperihan tak peduli hujan dan terik matahari mereka hadapi. Kala itu mereka menggunakan pakaian compang camping yang melekat pada tubuhnya berminggu-minggu lamanya tidak menjadi penghalang bagi mereka. Ketika terik matahari menyengat diperempatan lampu merah, mereka barhamburan menuju kendaraan yang terhenti tak lupa mereka membawa kecrekan, setelah terlihat lampu merah dan beberapa kendaraan  mereka langsung memunyikan kecrekan dan menyanyikan lagu dengan suara paraunya. Memasang muka memelas disamping kaca mobil, mereka ikhlas mendapat berapapun, bahkan terkadang beberapa mobil tidak memberikan sepersenpun tapi mereka tersenyum ikhlas, begitupun melanjutkan kemobil lainnya tak jarang dicaci dan dihujat beberapa orang yang menganggap mereka malas bekerja.


            Sebagian mereka tidak diperhatikan orang tuannya, malah orang tua mereka yang menyuruh mengamen dan mengemis. Jikalau mereka tak pulang terkadang orang tuanya tidak mencari ataupun khawatir. Ketika lelah mengemis sampai larut malam mereka tak ada rasa takut tidur dipinggir jalan, didepan pertokoan. Tak jarang mereka diusir beberapa kali, dengan keberaniannya mereka menggelar sobekan kardus ataupun koran-koran bekas yang didapat ditempat sampah. Tidak peduli kendaraan berlalu lalang, dingin yang merasuk tubuh mereka. Dengan semangat yang luar biasa mereka menghadapi kehidupan tanpa keluh kesah ataupun penyesalan.
Pandangan tentang Anak Jalanan
Anak merupakan generasi penerus bangsa termasuk juga anak jalanan, keberadaan mereka biasanya menghabiskan waktu di jalanan, mereka berpendidikan rendah, dan kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Anak jalanan banyak dituduh hal-hal negatif seperti kenakalan remaja dan tindak criminal lainnya, tapi mereka melakukan tindakan itu karena desakan ekonomi yang semakin hari semakin banyak selain itu disebabkan mereka tidak memperoleh pendidikan pada umumya. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan sesuap nasi.

Kebanyakan dari mereka bernasib sama tidak mampu membayar pendidikan dan memutuskan tidak bersekolah. Mereka membantu orang tuanya dengan mengemis dan mengamen karena minimnya keterampilan  dan hanya itulah yang mereka lakukan untuk menopang hidup. Berdasarkan penelitian Biro Pusat Statistik “tercatat sebanyak 7,4 juta anak berasal dari Rumah Tangga Sangat Miskin, termasuk diantaranya 1,2 juta anak balita terlantar, 3,2 juta anak terlantar, 230,000 anak jalanan, 5,952 anak yang berhadapan dengan hukum dan ribuan anak-anak yang sampai saat ini hak-hak dasarnya masih belum terpenu” (Shalahuddin, 2009).

Kekeliruan Pandangan Terhadap Anak Jalanan



Anak jalanan seorang pekerja keras yang menghabiskan waktu selama 24 jam di jalanan. Hampir sebagian besar mempunyai sifat keras, dan hidup tidak teratur. Sebenarnya anak jalanan juga mempunyai cita-cita yang sama dengan anak pada umumnya, mereka membutuhkan perhatian dan pengakuan eksistensi oleh masyarakat bukan hanya cercaan saja. Tidak hanya anak jalanan saja yang mempunyai masalah tetapi anak yang lebih beruntung dan bisa bersekolah juga mempunyai segudang masalah seperti penyalah gunaan narkoba dan pergaulan bebas.







Dibalik penilaian masyarakat tentang kehidupan suram anak jalanan ternyata mereka mempunyai sisi positif. Beberapa dari mereka menyempatkan membaca di sela-sela aktivitasnya, Hal itu membuktikan bahwa anak jalanan juga mempunyai semangat belajar. Terkadang orang untuk menjadi sukses itu tidak melihat dari berapa yang dimiliki tetapi seberapa keras usaha yang dilakukan. Meskipun dengan fasilitas belajar yang minim mereka mencoba untuk memaksimalkan fasilitas tersebut. Mereka memanfaatkan buku ataupun koran yang ia dapatkan dari jalanan karena sumber belajar tidak hanya buku pelajaran saja. Dengan membaca wawasan dan pemahaman mereka semakin luas.



Pentingnya Rumah Baca Bagi Anak Jalanan



Memang kesadaran masyarakat terhadap manfaat membaca masih rendah. Semuanya masih diukur dengan perolehan ekonomi (uang). Jika membaca tidak mendatangkan materi, ya membacanya nanti dulu. Jika ada hasilnya dan itu terwujud, dapat dinikmati seketika itu juga, baru mau membaca (Irkham, 2012). Itulah gambaran masyarakat saat ini yang lebih mementingkan materi. Karena itu, untuk mengembangkan potensi anak jalanan yang mayoritas aktivitasnya mengais rezeki di jalanan maka didirikan rumah baca. Untuk mengajak mereka datang kerumah baca memang sulit karena itu dibutuhkan kegiatan yang menyenangkan dalam rumah baca. Didalam rumah baca dapat disediakan buku bacaan yang menyenangkan dan inspiratif dengan cerita bergambar atau komik. Pada dasarnya anak suka bermain, sehingga dalam rumah baca disediakan games ataupun donggeng yang menyenangkan. Dibutuhkan relawan yang mempunyai kreatifitas yang tinggi, dapat diajarkan pelatihan kreativitas atau keterampilan sehingga anak-anak menjadi senang dan betah dalam rumah baca.



Peran dan Fungsi Rumah Baca



Peran dan fungsi rumah baca bagi program pemberdayaan anak jalanan sangat penting. Rumah baca mempunyai fungsi sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan prilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya, mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak, dan sebagai akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai persinggahan sementara anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dll. Lokasi rumah baca harus berada ditengah-tengah masyarakat agar memudahkan proses pendidikan dini, penanaman norma dan resosialisasi bagi anak jalanan (Ibnu, 2010). Selain itu, rumah baca digunakan untuk sarana pendukung dan bermain anak jalanan. Sehingga diharapkan dapat mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, sarana informasi dan pemahaman norma juga aturan (Gong, 2012).



Anak jalanan yakin terhadap apa yang ditekuni, mengamen dan mengemis karena itulah salah-satu yang dapat dilakukan dan mudah dilakukan. Jadi pada dasarnya anak jalanan mempunyai potensi yang dapat melebihi anak pada umumnya. Sehingga perlu dirangkul untuk memperoleh pendidikan walaupun bukan dengan pendidikan formal, anak jalanan dapat memahami pentingnya pendidikan. Ini semua bisa terwujud jika ada yang mengarahkan, mereka anak bangsa jangan sampai mereka terjerumus apalagi tidak menjaga masa depan.



DAFTAR PUSTAKA
Gong, G. & Irkham, A. 2012. Gempa Literasi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Pratama, Ibnu. 2010. Rumah Singgah, Solusi Tepat Untuk Pendidikan Anak Jalanan, (Online), (Rumah Singgah, Solusi Tepat Untuk Pendidikan Anak Jalanan), diakses 23 Maret 2013 pukul 09.00.

Shalahuddin, O. 2010. Anak Jalanan di Indonesia, (Online), (http://yayasansetara.org/23-000-anak-jalanan-di-indonesia), diakses 24 Maret 2013 pukul 21.00.

Tidak ada komentar: