MENGAMEN,
MENGEMIS, JUGA MEMBACA
MENGGUAK
KEHIDUPAN ANAK JALANAN
Oleh:
Riski Ayu Sejati
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UM
Pagi
sekali anak-anak jalanan berangkat untuk mengais rezeki, berharap pendapatan
cukup untuk membantu keluarga menopang hidup. Pagi-pagi ketika anak-anak pada
umumnya pergi kesekolah dengan pakaian yang rapi tapi anak jalanan dengan riang
berangkat menuju perempatan lampu merah, jangankan sekolah untuk berjuang hidup
dan makan saja bereka berjuang dalam keperihan tak peduli hujan dan terik
matahari mereka hadapi. Kala itu mereka menggunakan pakaian compang camping
yang melekat pada tubuhnya berminggu-minggu lamanya tidak menjadi penghalang
bagi mereka. Ketika terik matahari menyengat diperempatan lampu merah, mereka
barhamburan menuju kendaraan yang terhenti tak lupa mereka membawa kecrekan,
setelah terlihat lampu merah dan beberapa kendaraan mereka langsung memunyikan kecrekan dan
menyanyikan lagu dengan suara paraunya. Memasang muka memelas disamping kaca
mobil, mereka ikhlas mendapat berapapun, bahkan terkadang beberapa mobil tidak
memberikan sepersenpun tapi mereka tersenyum ikhlas, begitupun melanjutkan kemobil
lainnya tak jarang dicaci dan dihujat beberapa orang yang menganggap mereka malas
bekerja.
Sebagian mereka tidak diperhatikan orang
tuannya, malah orang tua mereka yang menyuruh mengamen dan mengemis. Jikalau
mereka tak pulang terkadang orang tuanya tidak mencari ataupun khawatir. Ketika
lelah mengemis sampai larut malam mereka tak ada rasa takut tidur dipinggir
jalan, didepan pertokoan. Tak jarang mereka diusir beberapa kali, dengan
keberaniannya mereka menggelar sobekan kardus ataupun koran-koran bekas yang
didapat ditempat sampah. Tidak peduli kendaraan berlalu lalang, dingin yang
merasuk tubuh mereka. Dengan semangat yang luar biasa mereka menghadapi
kehidupan tanpa keluh kesah ataupun penyesalan.
Pandangan tentang Anak Jalanan
Anak
merupakan generasi penerus bangsa termasuk juga anak jalanan, keberadaan mereka
biasanya menghabiskan waktu di jalanan, mereka berpendidikan rendah, dan
kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Anak jalanan banyak dituduh
hal-hal negatif seperti kenakalan remaja dan tindak criminal lainnya, tapi
mereka melakukan tindakan itu karena desakan ekonomi yang semakin hari semakin
banyak selain itu disebabkan mereka tidak memperoleh pendidikan pada umumya.
Mereka hanya memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan sesuap nasi.
Kebanyakan
dari mereka bernasib sama tidak mampu membayar pendidikan dan memutuskan tidak
bersekolah. Mereka membantu orang tuanya dengan mengemis dan mengamen karena
minimnya keterampilan dan hanya itulah
yang mereka lakukan untuk menopang hidup. Berdasarkan penelitian Biro
Pusat Statistik “tercatat sebanyak 7,4 juta anak berasal dari Rumah Tangga
Sangat Miskin, termasuk diantaranya 1,2 juta anak balita terlantar, 3,2 juta
anak terlantar, 230,000 anak jalanan, 5,952 anak yang berhadapan dengan hukum
dan ribuan anak-anak yang sampai saat ini hak-hak dasarnya masih belum terpenu”
(Shalahuddin, 2009).
Kekeliruan
Pandangan Terhadap Anak Jalanan
Anak jalanan
seorang pekerja keras yang menghabiskan waktu selama 24 jam di jalanan. Hampir sebagian
besar mempunyai sifat keras, dan hidup tidak teratur. Sebenarnya anak jalanan
juga mempunyai cita-cita yang sama dengan anak pada umumnya, mereka membutuhkan
perhatian dan pengakuan eksistensi oleh masyarakat bukan hanya cercaan saja. Tidak
hanya anak jalanan saja yang mempunyai masalah tetapi anak yang lebih beruntung
dan bisa bersekolah juga mempunyai segudang masalah seperti penyalah gunaan
narkoba dan pergaulan bebas.
Dibalik
penilaian masyarakat tentang kehidupan suram anak jalanan ternyata mereka
mempunyai sisi positif. Beberapa dari mereka menyempatkan membaca di sela-sela
aktivitasnya, Hal itu membuktikan bahwa anak jalanan juga mempunyai semangat
belajar. Terkadang orang untuk menjadi sukses itu tidak melihat dari berapa
yang dimiliki tetapi seberapa keras usaha yang dilakukan. Meskipun dengan
fasilitas belajar yang minim mereka mencoba untuk memaksimalkan fasilitas tersebut.
Mereka memanfaatkan buku ataupun koran yang ia dapatkan dari jalanan karena
sumber belajar tidak hanya buku pelajaran saja. Dengan membaca wawasan dan
pemahaman mereka semakin luas.
Pentingnya
Rumah Baca Bagi Anak Jalanan
Memang
kesadaran masyarakat terhadap manfaat membaca masih rendah. Semuanya masih
diukur dengan perolehan ekonomi (uang). Jika membaca tidak mendatangkan materi,
ya membacanya nanti dulu. Jika ada hasilnya dan itu terwujud, dapat dinikmati
seketika itu juga, baru mau membaca (Irkham, 2012). Itulah gambaran masyarakat
saat ini yang lebih mementingkan materi. Karena itu, untuk mengembangkan
potensi anak jalanan yang mayoritas aktivitasnya mengais rezeki di jalanan maka
didirikan rumah baca. Untuk mengajak mereka datang kerumah baca memang sulit
karena itu dibutuhkan kegiatan yang menyenangkan dalam rumah baca. Didalam
rumah baca dapat disediakan buku bacaan yang menyenangkan dan inspiratif dengan
cerita bergambar atau komik. Pada dasarnya anak suka bermain, sehingga dalam
rumah baca disediakan games ataupun donggeng yang menyenangkan. Dibutuhkan
relawan yang mempunyai kreatifitas yang tinggi, dapat diajarkan pelatihan
kreativitas atau keterampilan sehingga anak-anak menjadi senang dan betah dalam
rumah baca.
Peran dan Fungsi Rumah Baca
Peran
dan fungsi rumah baca bagi program pemberdayaan anak jalanan sangat penting.
Rumah baca mempunyai fungsi sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk
kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan prilaku penyimpangan
seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya, mengembalikan dan menanamkan
fungsi sosial anak, dan sebagai akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai
persinggahan sementara anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai
pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dll. Lokasi rumah baca harus
berada ditengah-tengah masyarakat agar memudahkan proses pendidikan dini, penanaman
norma dan resosialisasi bagi anak jalanan (Ibnu, 2010). Selain itu, rumah baca
digunakan untuk sarana pendukung dan bermain anak jalanan. Sehingga diharapkan
dapat mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, sarana informasi dan pemahaman
norma juga aturan (Gong, 2012).
Anak
jalanan yakin terhadap apa yang ditekuni, mengamen dan mengemis karena itulah
salah-satu yang dapat dilakukan dan mudah dilakukan. Jadi pada dasarnya anak
jalanan mempunyai potensi yang dapat melebihi anak pada umumnya. Sehingga perlu
dirangkul untuk memperoleh pendidikan walaupun bukan dengan pendidikan formal,
anak jalanan dapat memahami pentingnya pendidikan. Ini semua bisa terwujud jika
ada yang mengarahkan, mereka anak bangsa jangan sampai mereka terjerumus apalagi
tidak menjaga masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Gong,
G. & Irkham, A. 2012. Gempa Literasi.
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Pratama, Ibnu. 2010. Rumah Singgah, Solusi Tepat Untuk Pendidikan Anak Jalanan, (Online), (Rumah Singgah, Solusi Tepat Untuk Pendidikan Anak Jalanan), diakses 23 Maret 2013 pukul 09.00.
Shalahuddin,
O. 2010. Anak Jalanan di Indonesia, (Online), (http://yayasansetara.org/23-000-anak-jalanan-di-indonesia), diakses 24
Maret 2013 pukul 21.00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar