MENGAMEN,
MENGEMIS, JUGA MEMBACA
MENGGUAK
KEHIDUPAN ANAK JALANAN
Oleh:
Riski Ayu Sejati
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UM
Pagi
sekali anak-anak jalanan berangkat untuk mengais rezeki, berharap pendapatan
cukup untuk membantu keluarga menopang hidup. Pagi-pagi ketika anak-anak pada
umumnya pergi kesekolah dengan pakaian yang rapi tapi anak jalanan dengan riang
berangkat menuju perempatan lampu merah, jangankan sekolah untuk berjuang hidup
dan makan saja bereka berjuang dalam keperihan tak peduli hujan dan terik
matahari mereka hadapi. Kala itu mereka menggunakan pakaian compang camping
yang melekat pada tubuhnya berminggu-minggu lamanya tidak menjadi penghalang
bagi mereka. Ketika terik matahari menyengat diperempatan lampu merah, mereka
barhamburan menuju kendaraan yang terhenti tak lupa mereka membawa kecrekan,
setelah terlihat lampu merah dan beberapa kendaraan mereka langsung memunyikan kecrekan dan
menyanyikan lagu dengan suara paraunya. Memasang muka memelas disamping kaca
mobil, mereka ikhlas mendapat berapapun, bahkan terkadang beberapa mobil tidak
memberikan sepersenpun tapi mereka tersenyum ikhlas, begitupun melanjutkan kemobil
lainnya tak jarang dicaci dan dihujat beberapa orang yang menganggap mereka malas
bekerja.