Jumat, 17 Januari 2014

Peran Pustakawan

Tidak dapat dipungkiri lagi minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah,bahkan dibanding dengan negara tetangga. Sampai sekarang masih dibingungkan, tidak suka membaca karena kurangnya tulisan ataukah tidak bisa menulis karena tidak suka membaca??
Nah ini dapat dianalogikan seperti telur dan ayam,di antara keduanya lebih dahulu mana? Telur dahulu karena tumbuh menjadi ayam, atau kah ayam dulu karena ayam yang menetaskan telur. Masalah telur dan ayam ini sama halnya dengan hubungan antara menulis dan membaca lebih dahulu mana. Sebagian orang  mengatakan menulis itu mudah karena suka membaca, tekun, rajin dan mempunyai kemauan yang kuat. Sebaliknya, bukan lagi sebagian tapi kebanyakan orang malah malas menulis dengan alasan seperti malas, tidak ingin tahu, pada garis besarnya hanyalah tidak suka membaca. Jika seseorang ingin banyak menulis maka seharusnya juga banyak membaca, membaca yang termasuk pekerjaan mudah saja masih rendah apalagi menulis yang membutuhkan konsentrasi dan pengalaman yang banyak.
Bagaimana dengan pustakawan?
Pustakawan sebenarnya mempunyai kesempatan yang sangat besar dalam menulis, karena setiap harinya selalu berkecimpung di dunia informasi. Dapat dilihat di toko-toko buku karangan pustakawan sangat rendah, sangat sulit untuk mencari buku-buku pustakawan. Pustakawan seharusnya dapat menjadi teladan yang baik bagi pengguna. Bagaimana pustakawan saat ini?

 






Minat baca tulis masyarakat Indonesia
Berdasarkan hasil survei UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menunjukkan bahwa minat baca masyarakat yang paling rendah di ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah negara Indonesia (“Minat Baca Masyarakat Indonesia Paling Rendah di ASEAN”, Warta Online, 26 Januari 2011).
Rendahnya minat baca ini dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura yang memiliki indeks membaca sampai 0,45 (“Galakkan Baca Buku untuk Kemajuan Bangsa”, Media Indonesia, 17 Mei 2010).
Memang Indonesia belum terbangun dari tidur, tidak ada keinginan untuk bangkit, masih terlena dengan kesengan-kesenagan menonton, sehingga imbasnya budaya tulis sangat rendah. Menonton televisi merupakan makanan sehari-hari masyarakat indonesia, dimana didalamnya tontonan yang kurang mendidik apalagi di perkampunagan hanya televisi saja sebagai hiburan itupun kalau ada, bahkan perpustakaan saja tidak ada. Mau tidak mau yah, itu yang ditelan.
Profesi Pustakawan
Pustakawan merupakan tenaga ahli atau bisa disebut profesi yang mempunyai ketrampilan khusus untuk memberikan jasa atau layanan kepada masyarakat. Dalam pasal 14 UU RI tahun 2007 tentang layana perpustakaan. Layanan perpustakaan dilakukan secara prima danberorientasi bagi kepentingan pemustaka, setiap perpustakan menerapkan tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standart nasional perpustakaan, setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Pustakawan harus mempunyai tenaga yang ekstra untuk melayai pemusta agar tidak ada kekecewaan terhadap layanan yang diberikan sehingga pemustaka merasa puas dan menjadi sering berkunjung keperpustakaan sebagai lumbung juga  dalam dunia maya.
Peran pustakawan
Dalam Pasal 32 UU RI nomor 3  tahun 2007 “Tenaga perpustakaan berkewajiban: memberikan layanan prima terhadap pemustaka, menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif, memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya”
Seharusya pustakawan memiliki rasa prihatin terhadap rendahnya minat baca masyarakat, kemudian para pustakawan tergerak untuk menulis tulisan yang berkualitas supaya masyarakat tertarik untuk membaca.
Dari UU RI pasal 32 sangat jelas bahwa pustakawan mempunyai peran penting, dikarenakan minat baca tulis masyarakat yang rendah. Dapat dikatakan pustakawan merupakan ujung tombak dalam gerakan literasi. memikul beban yang sangat besar dan inilah tantangan bagi pustakawan.
Jadi sangat berpengaruh sekali, pustakawan dapat berguna dikatakan sebagai virus bagi pengguna. Jika pustakawan mempunyai minat baca yang tinggi maka akan produktif dalam menulis sehingga akan mempunyai sikap tanggung jawab dalam bekerja bukan hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga orang lain maupun pengguna. Sehingga bisa membimbing pengguna agar diajak suka membaca dan menulis, supaya pustakawan menjadi teladan yang baik dan memberi sumbagsih dalam peningkatan baca tulis masyarakat Indonesia.


Tidak ada komentar: