Tidak dapat dipungkiri lagi minat baca
masyarakat Indonesia masih tergolong rendah,bahkan dibanding dengan negara
tetangga. Sampai sekarang masih dibingungkan, tidak suka membaca karena kurangnya
tulisan ataukah tidak bisa menulis karena tidak
suka membaca??
Nah ini dapat dianalogikan seperti
telur dan ayam,di antara keduanya lebih dahulu mana?
Telur dahulu karena tumbuh menjadi ayam, atau kah ayam dulu karena ayam yang menetaskan telur. Masalah telur
dan ayam ini sama halnya dengan hubungan antara menulis dan membaca lebih
dahulu mana. Sebagian orang mengatakan menulis itu mudah karena suka
membaca, tekun, rajin dan mempunyai kemauan yang kuat. Sebaliknya, bukan lagi
sebagian tapi kebanyakan orang malah malas menulis dengan alasan seperti malas, tidak ingin tahu,
pada garis besarnya hanyalah tidak suka membaca. Jika seseorang ingin banyak
menulis maka seharusnya juga banyak membaca, membaca yang termasuk pekerjaan
mudah saja masih rendah apalagi menulis yang membutuhkan konsentrasi dan
pengalaman yang banyak.
Bagaimana dengan pustakawan?
Pustakawan sebenarnya mempunyai
kesempatan yang sangat besar dalam menulis, karena setiap harinya selalu
berkecimpung di dunia informasi. Dapat
dilihat di toko-toko buku karangan pustakawan sangat
rendah, sangat sulit untuk mencari
buku-buku pustakawan. Pustakawan seharusnya dapat
menjadi teladan yang baik bagi pengguna.
Bagaimana pustakawan saat ini?
Minat
baca tulis masyarakat Indonesia
Berdasarkan hasil
survei UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization) menunjukkan bahwa minat baca masyarakat yang paling rendah di
ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah negara Indonesia (“Minat
Baca Masyarakat Indonesia Paling Rendah di ASEAN”, Warta Online, 26 Januari
2011).
Rendahnya minat baca
ini dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar
0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki
minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat
baca di Singapura yang memiliki indeks membaca sampai 0,45 (“Galakkan Baca Buku
untuk Kemajuan Bangsa”, Media Indonesia, 17 Mei 2010).
Memang Indonesia
belum terbangun
dari tidur, tidak ada keinginan untuk bangkit, masih terlena dengan
kesengan-kesenagan menonton, sehingga imbasnya budaya tulis sangat rendah.
Menonton televisi merupakan makanan sehari-hari masyarakat indonesia, dimana
didalamnya tontonan yang kurang mendidik apalagi di perkampunagan hanya
televisi saja sebagai hiburan itupun kalau ada, bahkan perpustakaan saja tidak
ada. Mau tidak mau yah, itu yang ditelan.
Profesi
Pustakawan
Pustakawan merupakan
tenaga ahli atau bisa disebut profesi yang mempunyai ketrampilan khusus untuk
memberikan jasa atau layanan kepada masyarakat. Dalam pasal 14 UU RI tahun 2007
tentang layana perpustakaan. Layanan perpustakaan dilakukan secara prima danberorientasi
bagi kepentingan pemustaka, setiap perpustakan menerapkan tata cara layanan
perpustakaan berdasarkan standart nasional perpustakaan, setiap perpustakaan
mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi.
Pustakawan harus
mempunyai tenaga yang ekstra untuk melayai pemusta agar tidak ada kekecewaan
terhadap layanan yang diberikan sehingga pemustaka merasa puas dan menjadi
sering berkunjung keperpustakaan sebagai lumbung juga dalam dunia maya.
Peran
pustakawan
Dalam Pasal 32 UU RI
nomor 3 tahun 2007 “Tenaga perpustakaan
berkewajiban: memberikan layanan prima terhadap pemustaka, menciptakan suasana
perpustakaan yang kondusif, memberikan keteladanan dan menjaga nama baik
lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya”
Seharusya pustakawan
memiliki rasa prihatin terhadap rendahnya minat baca masyarakat, kemudian para
pustakawan tergerak untuk menulis tulisan yang berkualitas supaya masyarakat
tertarik untuk membaca.
Dari UU RI pasal 32
sangat jelas bahwa pustakawan mempunyai peran penting, dikarenakan minat baca
tulis masyarakat yang rendah. Dapat dikatakan
pustakawan merupakan ujung tombak dalam gerakan literasi. memikul beban yang
sangat besar dan inilah tantangan bagi pustakawan.
Jadi sangat
berpengaruh sekali, pustakawan dapat berguna dikatakan sebagai virus bagi
pengguna. Jika pustakawan mempunyai minat baca yang tinggi maka akan produktif
dalam menulis sehingga akan mempunyai sikap tanggung jawab dalam bekerja bukan
hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga orang lain maupun pengguna.
Sehingga bisa membimbing pengguna agar diajak suka membaca dan menulis, supaya
pustakawan menjadi teladan yang baik dan memberi sumbagsih dalam peningkatan
baca tulis masyarakat Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar